Information and Links
Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.
Sabung Ayam dan Pendapatan Daerah
Di media masa dan blog-blog banyak membahas masalah sabung ayam (Tajen) di Bali, dan adanya rencana untuk memperdakan Tajen tersebut. Secara teori daerah bisa melakukan pengawasan dan mendapatkan masukkan dana dari pengadaan sabung ayam tersebut. Hal ini mengingatkan saya dengan Tailand, dimana negara tersebut menggunakan sabung ayam sebagai salah satu objek wisata yang ada dan bisa dikatakan pemasukkan pendapatannya cukup besar baik dari lokal maupun wisman.
Jika dipikirkan, mungkin sangatlah baik ide tersebut, karena dengan adanya perda, sehingga uang cuk yang masuk ke kantong-kantong oknum bisa dialihkan ke kas daerah. Jika kita pikirkan berapa besar uang cuk yang bisa didapat dari hasil pengadaan sabung ayam dalam satu hari? Dalam satu hari pengadaan tajen disatu tempat bisa mendapatkan uang cuk sampai 50 jt. Jika tajen tersebut diadakan 8x sebulan dan diadakan di 4 tempat yang berbeda? kira-kira pendapatannya sekitar berapa sebulan? Bagaimana kalau dana tersebut digunakan sebagai salah satu sumber dana untuk pembangunan daerah, kira-kira seberapa besar pembangunan dapat dilakukan dengan dana tersebut?
Pada Tajen gelap, kira-kira siapakah orang-orang yang datang untuk melihat atau bertaruh didalamnya? mungkin bisa dikatakan bahwa anak-anak kecilpun bisa datang untuk melihat dan berjudi, sehingga pendidikan berjudi telah mulai ditempa sejak dini, dan dapat membentuk calon-calon pejudi yang handal dimasa yang akan datang. Kenapa saya bisa katakan begitu? karena saya memiliki teman yang anaknya masih duduk di bangku SMP bisa mengetahui dimana terdapat sabung ayam dilaksanakan dan dapat turut serta memasang taruhan. Mengapa? yah karena tidak ada larangan untuk anak dibawah umur masuk kearena sabung ayam tersebut.
Jika dilihat dari segi moral? mungkin bisa dikatakan, semua kembali ke orang tua, bagaimana orang tua tersebut mendidik anak-anaknya, sehingga anak-anak itu bisa bebas dari kebiasaan berjudi. Disamping pendidikan moral dari orang tua, kesempatan untuk mencoba juga dapat dihindari karena tempat tersebut menjadi tempat yang terbatas dengan didukung hukum yang ada.
Kita melihat sebuah contoh, Malaysia, dimana negara tersebut memiliki aturan agama yang sangat kuat akan judi, dimana judi sangat dilarang disana. Namun, jika kita perhatikan Malaysia memiliki Genting sebagai rumah judi yang resmi. Bagi orang-orang local maupun internasional yang ingin berjudi hanya dapat dilakukan niatnya ditempat tersebut. Itupun dibatasi untuk orang yang memiliki umur 17 tahun keatas. Jika dilihat mayoritas yang datang ketempat tersebut pada akhirnya adalah kebanyakan dari orang luar dari Malaysia, sehingga tempat tersebut menjadi sumber pendapatan tersendiri.
Ini hanya pandangan saya saja … walaupun tempat Tajen tersebut pada akhirnya terealisasi, tidak ada niat bagi saya untuk berkunjung kedalamnya … namun saya berharap agar Bali dapat maju kedepan sehingga dapat memberikan kesejahteraan kepada seluruh warganya.
Pesan: Sebuah pendidikkan akan dimulai dari lingkungan yang kecil yaitu keluarga, dari lingkungan tersebut akan membuat seseorang menjadi orang yang sukses atau gagal.


