Information and Links
Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.
Perjalanan singkat Ke Singapore
Pada tanggal 23 Agustus yang lalu saya mendapatkan jadwal pertemuan singkat di Singapore, namun mendapatkan penerbangkan sangat sulit, dikarenakan jumlah penerbangan langsung dari Bali menuju Singapore sangat sedikit. Oleh karena itu, saya mencari jadwal perjalan melalui Jakarta. Hal ini juga menjadi sebuah kendala, walaupun perjalanan Jakarta menuju Singapore tersedia, namun perjalanan dari Denpasar menuju Jakarta sangat sulit dikarenakan bertabrakan dengan liburan panjang sebelumnya dan sangat sulit mengatur jadwal keberangkatan yang saling berhubungan. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk berangkat 1 hari sebelumnya yaitu pada tanggal 22 Agustus dengan menggunakan Adam Air dan menginap semalam di Jakarta.
Pada saat saya berada di Jakarta, kemacetan menyambut kedatangan saya disana, dimana perjalanan dari bandara menuju hotel yang saya tinggali membutuhkan waktu yang cukup lama, karena salah satu ruas jalan tol tidak dapat dipergunakan akibat kebakaran yang terjadi beberapa waktu lalu yang menghanguskan beberapa rumah dibawah jalan tol. Disamping itu juga kemacetan didalam kotapun tidak kalah menariknya, dibandingkan pada waktu saya tinggal di Jakarta beberapa tahun, mungkin hal ini disebabkan oleh fasilitas baru yaitu bus way yang telah menyita beberapa ruas jalan, sehingga semakin mempersempit jalan utama yang ada.
Sehingga, dari pengalaman tersebut, dan mendengar saran dari teman yang tinggal di Jakarta. Pada keesokan harinya, saya berangkat 5 jam lebih awal untuk menghindari kemacetan tersebut, proses check in dan imigrasi dan pesawat yang saya tumpangi akan tinggal landas pada pukul 10:30.
Pada saat itu, permasalahan kemacetan tidak terlalu menjadi masalah, sehingga saya dapat tiba di bandara dalam waktu 30 menit, sehingga dapat dibayangkan berapa lama waktu untuk menunggu keberangkatan, walaupun telah dikurangi waktu check in dan imigrasi yang hanya membutuhkan waktu dibawah 1 jam. Namun, waktu tunggu di bandara menjadi meningkat, dimana terjadi keterlambatan keberangkat selama 1 jam sehingga rasa bosan berada di bandara menjadi meningkat dengan minimnya fasilitas dan hiburan di bandara tersebut.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya saya melanjutkan penerbangan ke Singapore dimana perjalanan dari Jakarta menuju Singapore cukup singkat yaitu 1 1/2 jam perjalanan, hal ini hampir sama dengan jarak Jakarta menuju Bali. Didalam perjalanan, cuaca cukup bagus walaupun di imbangi dengan guncangan-guncangan kecil. Setiba di Singapore, ternyata fasilitas-fasilitas dan kecepatan proses di imigrasi dan bagian bagasi tidak berubah, dimana memberikan rasa nyaman terhadap wisatawan yang datang ketempat tersebut. Seperti halnya bagasi, boleh dikatakan proses pengeluaran dari pesawat menuju ruang pengambilan barang lebih cepat daripada waktu orang keluar dari pesawat menuju ruang pengambilan barang, sehingga penumpang tidak harus menunggu barang mereka karena barang mereka yang menunggu pemiliknya. Hal ini sangat sulit terjadi di bandara di Indonesia.
Pemilihan kendaraan dari bandara menuju hotelpun tidak kalah menariknya, dimana kita disuguhi dengan beberapa pilihan yaitu mulai dari kereta bawah tanah, taxi, bus, rent car ataupun private van, sehingga kita tidak perlu merasa binggung dan biayapun bervariasi bergantung dengan kemampuan kita. Pada saat itu saya memilih menaiki private van, karena jadwal pertemuan yang seharusnya telah dimulai 1 jam sebelumnya dari waktu ketibaan menjadi tertunda, namun, semuanya dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Setelah pertemuan selesai, masih tersisa waktu luang sebelum keberangkatan kembali ke tanah air pada keesokan harinya, saya menyempatkan diri untuk berkeliling dipusat kota. Waktu luang tersebut tidak seluruhnya dapat saya nikmati, karena kondisi cuaca di Singapore memasuki musim penghujan. Dari waktu luang yang ada saya melihat perubahan-perubahan yang terjadi antara Singapore saat ini dengan Singapore 2 tahun yang lalu sangat banyak terjadi perubahaan. Dimana gedung pencakar langit yang saya pernah singahi 2 tahun yang lalu untuk membeli sebuah kue telah menghilang dan rata dengan tanah, dan segera akan dibangun gedung yang baru. Pembangunan area-area barupun telah tumbuh dimana-mana, bianglala 2 tahun yang lalu baru masih berupa tanah kosong, telah terbangun dengan megah. Inilah sebuah contoh yang patut dipelajari oleh kita sebagai negara yang seharusnya mampu membangun sebuah peradaban yang lebih maju namun segala sesuatu tersebut tidak pernah terwujud.
Singkat cerita, keesokan harinya, pesawat yang akan saya naiki akan berangkat meuju ke Jakarta sekitar pukul 1 siang, sehingga pagi hari saya masih sempat untuk berkeliling dan mencari makanan siang untuk menghindari kelaparan, karena pesawat yang saya tumpangi hanya mendapatkan segelas air putih. Disamping mencari makan siang, saya menyempatkan diri untuk singah di toko buku favorit saya, yaitu Border, namun saat itu saya hanya melihat-lihat buku menarik yang ada, dan dikarenakan keterbatasan waktu sehingga tidak cukup bagi diri saya untuk mengantri di kasir dari toko buku tersebut. Akhirnya pada pukul 11 siang saya berangkat menuju ke bandara Changi, dimana hanya membutuhkan waktu 15-25 menit dan dari pengalaman sebelumnya, saya merasakan tidak akan mengalami kebosanan jika berada di bandara, karena konsep dari bandara tersebut cukup menarik yaitu terdapat sebuah kota kecil yang lengkap dengan pusat hiburan didalam bandara, sehingga orang dapat menikmati segala fasilitas yang ada secara gratis, seperti misalnya internet, alat pijat, cafe, toko dengan harga barang yang sama dengan dikota, hiburan, pusat pendidikan dan informasi dan masih banyak lagi yang lainnya.
Akhirnya pada pukul 1:20 pesawat yang saya tumpangi bertolak ke Jakarta tepat pada waktunya dan segala berjalan dengan baik.
Kesan-kesan saya mengenai pengalaman dari perjalanan ini adalah:
Mungkin persaingan didunia penerbangan ditanah air semakin ketat, sehingga bagaimanapun cara dari jasa penerbangan menekan biaya operasional, untuk mecapai moto, seperti setiap orang dapat terbang, jasa penerbangan murah, dsb. Namun yang saya lihat disini bukannya perusahaan penerbangan tersebut menjadi “penerbangan murah”, yang pasti penerbangan tersebut menjadi “penerbangan murahan”. Kenapa saya bilang menjadi penerbangan murahan, sebagai contoh pesawat yang saya tumpangi yaitu Lion Air, dimana dalam perjalanan kita hanya dapat meminum segelas air dan tidak lebih walaupun kita mampu membeli makanan (jika mereka miliki), saya sangat tidak tertarik dengan konsep penerbangan murah mereka, karena jika penumpang tersebut sampai dibandara pagi hari, telah menunggu sekian jam karena berangkat lebih awal tanpa sarapan, ditambah keterlambatan penerbangan, dan masa perjalanan yang cukup panjang untuk sampai ditempat tujuan. Sehingga penumpang akan mengalami kelaparan yang cukup lama. Mungkin saya lebih menarik dengan konsep murah yang diterapkan oleh Airasia, dimana kita tidak mendapatkan fasilitas makanan maupun minuman, namun penumpang memiliki kesempatan untuk menikmati hidangan dengan membeli makanan yang adadijajakan oleh pramugari, sehingga konsep murah benar-benar dapat tercapai bukan konsep murahan.


