Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.

Other Posts
Peningkatan Mutu Pendidikan dengan Interaksi 2 Arah
Mutiara dan Kecantikan

Harga dan Mutu Pendidikan

Posted by gde on June 20th, 2007

Banyak orang yang meyakini bahwa sebuah sekolah yang mahal, maka sekolah tersebut memiliki mutu yang tinggi dan mahasiswa yang dihasilkan akan diterima oleh perusahaan yang ada.

Dari keyakinan tersebut, banyak universitas secara berlomba-lomba melakukan kerja sama (menurut pandangan saya, membeli kurikulum) dengan sekolah asing/universitas yang berada diluar negeri sehingga mutu pendidikan yang akan dihasilkan akan meningkat.

Menurut pengalaman saya pribadi, hasil kerja sama tersebut tidak akan meningkatkan mutu dari calon tenaga kerja yang dihasilkan oleh universitas tersebut. Namun, yang telah pasti akan ditingkatkan adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh calon tenaga kerja tersebut akan meningkat dengan mutu yang sama dengan masa dimana universitas tersebut tidak melakukan kerja sama.

Bagaimana dengan jaminan akan mendapatkan sebuah pekerjaan? Pertanyaan ini memiliki 2 jawaban ya dan tidak, dimana kepastian akan diterima bekerja bergantung pada calon tenaga kerja tersebut secara sendiri. Namun, pertanyaan yang paling penting adalah Akankah biaya yang dikeluarkan akan sebanding dengan gaji yang akan diterima? heem, ini merupakan sebuah pertanyaan yang memiliki sebuah jawaban yang beraneka ragam. Coba kita memulai sebuah perhitungan secara kasar untuk menjawab berdasarkan asumsi.

  • Kita pasti diterima karena status ijasah luar negeri.
  • Biaya kuliah us$ 2.000 /smt (4 bln) x 8 smt = u$ 16.000
  • Gaji bersih pada saat calon pekerja diterima ditempat kerja Rp. 2.000.000/Bulan
  • Kurs Rp9.000 per us$ 1

Dari asumsi diatas, maka mahasiswa tersebut akan membutuhkan biaya kurang lebih Rp. 144.000.000 dalam waktu 8 smt. Setelah mahasiswa tersebut tamat dari universitas, langsung diterima bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji bersih Rp. 2.000.000. Untuk menutupi biaya selama kuliah maka dapat dihitung yaitu Rp. 144.000.000 / Rp. 2.000.000 dan menghasilkan lama waktu pengembalian dari biaya kuliah tersebut yaitu 72 bulan (6 tahun)

Saya memiliki pertanyaan, apakah seorang pegawai mungkin akan mendapatkan gaji bersih sebesar itu untuk ukuran gaji pegawai di Indonesia? Ini merupakan sebuah time boom yang dimiliki oleh calon tenaga kerja tersebut yang diakibatkan oleh sebuah iming-iming akan kepastian diterima kerja setelah tamat. Bagaimana jika tenaga kerja tersebut hanya menerima gaji bersih sebesar Rp. 1.000.000? atau Rp. 500.000?

Mungkin yang harus dilakukan oleh sebuah Universitas adalah meningkatkan mutu dan sumber daya pengajar yang dimiliki, sehingga kebutuhan peningkatan biaya akan sebanding dengan mutu yang dihasilkan, namun peningkatan biaya tersebut tidak sebesar biaya jika universitas tersebut membeli kurikulum dengan kualitas pengajar yang sama dengan waktu sebelum melakukan kerja sama.

Bagi mahasiswa baru, alangkah baiknya mempertimbangkan segala sesuatu sebelum melangkah, karena akan terjadi banyak ranjau menghadang didepan mata. Tidak selalu Universitas diluar negeri memiliki mutu yang baik.  Ternyata Indonesiapun memiliki 2 universitas yang masuk dalam ranking dunia.

Paling penting dalam meningkatkan persaingan dengan pekerja lain adalah meningkatkan qualitas diri sendiri baik secara mandiri ataupun belajar dari berbagai tempat sehingga dapat memenuhi kebutuhan yang diinginkan oleh perusahaan yang mencari tenaga kerja sehingga kita akan dapat melakukan negosiasi akan gaji yang kita terima.



Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Bli Gde, saya setuju poinnya. Tingkatkan dulu mutu pengajar dan fasilitasnya :)

Universitas tempat kita kuliah menurut saya belum siap untuk kerjasama seperti ini. Masih terlalu dini dan terkesan terlalu memaksakan. Saya jadi berprasangka kalau Universitas terlalu money oriented..

Saya sebenarnya membicarakan secara global, karena itu juga pengalaman saya mengikuti beberapa Univ yang telah melakukan kerjasama. Dan rate yang saya masukkan adalah nilai kampus yang termurah saya pernah masuki (dijakarta bekerjasama dengan salah satu Univ terkenal di Australia).
Pada point yang saya inginkan adalah sekolah meningkatkan mutu dengan menaikkan biaya, namun kualitas juga ikut naik, sehingga tanpa melakukan kerja sama dengan Univ luar negeri qualitas sudah naik.
Justru Univ yang mau melakukan kerja sama(ijasah mereka obral) memiliki mutu yang rendah, karena mereka tidak memikirkan reputasi kampus mereka rusak jika partner mereka melakukan kesalahan.

Memang benar, belakangan ini rasanya hampir semua perguruan tinggi terkesan money oriented. Selain itu pada berlomba-lomba cari mahasiswa dalam jumlah banyak, terutama perguruan tinggi swasta.